Halo teman-teman..
Ketika saya mengupdate IG story tentang menstrual cup, banyak teman bertanya, itu apa? Beberapa teman juga ada yang sudah tau, namun terlalu takut untuk mencoba. Mereka penasaran tentu saja, dan mereka meminta kepada saya untuk berbagi cerita setelah menggunakan produk tersebut.

PERHATIAN: Saya berusaha seterbuka mungkin menceritakan pengalaman pertama menggunakan menstrual cup tersebut. Pada postingan kali ini, saya tidak akan menahan-nahan dalam penggunaan kata agar informasi dapat diterima dengan jelas oleh pembaca.
Sebulan yang lalu, saya menemukan sebuah postingan menarik dari @organicup.id di tab explore Instragram. Kenapa menurut saya menarik? Jujur, saya baru mengetahui bahwa setelah pembalut dan tampon, ada sebuah konsep yang bernama menstrual cup. Menstrual cup adalah cawan yang dimasukkan ke dalam organ kewanitaan yang dimaksudkan untuk menampung darah haid untuk kemudian dikosongkan dan digunakan kembali. Jadi jelas, menstrual cup bisa digunakan berkali-kali, tidak seperti pembalut dan tampon yang hanya sekali pakai. Terkait pertanyaan mengenai apakah menstrual cup bisa menghilangkan keperawanan, maaf saya tidak memiliki background keilmuan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Mungkin postingan langsung dari organicup berikut ini bisa cukup menjawab:

Jadi, karena saya sudah menikah, tidak ada yang menghalangi saya untuk mencoba menstrual cup, yeay! Seketika itu juga saya langsung mengunjungi website sustaination.id yang menjual organicup tersebut (iya, saya seimpulsif itu). Dari sana saya mengetahui bahwa harganya mahal, yakni 420ribu satu buahnya. Saya coba mencari menstrual cup di shopee, banyak pilihan memang, bahkan start from 7ribu rupiah. Bayangin aja! Bahannya silikon apaan kok bisa semurah itu?! Serem banget. Saya tidak mau ambil risiko untuk barang-barang yang dimasukin ke tubuh. Akhirnya saya kembali lagi ke website organicup dan bersabar menunggu promo minggu depannya. Promo gila-gilaan di hari Black Friday, beli 1 gratis 1.

Tentang Organicup
Organicup memiliki 2 ukuran, yakni size A, direkomendasikan untuk wanita yang belum pernah melahirkan secara normal, dan size B yang direkomendasikan untuk wanita yang pernah melahirkan secara normal. Size di atas bisa dijadikan panduan untuk membeli menstrual cup pertama kali. Penggunaan kata “direkomendasikan” berarti tidak harus selalu demikian ya. Sekali lagi, anatomi setiap tubuh wanita itu berbeda dan punya keunikan masing-masing. Memang harus dicoba agar bisa tau mana yang cocok. Saya pribadi menggunakan size A. Pertama kali membuka kotaknya saya langsung shock, ternyata cawannya cukup besar. Saya hanya berdoa supaya muat masuk, hmmm.

Banyak hal yang digaung-gaungkan sebagai kelebihan dari organicup ini. Chemical free: menggunakan silikon yang biasa digunakan untuk medis. Comfortable: cocok digunakan untuk orang yang sangat aktif karena tidak berasa apapun. Lasts years, not hours: yup, cawan bisa digunakan hingga 10 tahun. Certified vegan: no animal tested. Dia juga dinominasikan AllergyAward2018 dalam kategori Best Skin Friendly Product for Women dan dianugerahi Product of the Year dua kali lho.
Wajib hafal siklus menstruasi kamu!
Saya termasuk wanita yang dapat haid pertamanya terlambat, yaitu baru kelas 1 SMA. Haloooo, ketika cewek-cewek yang lain badannya udah tinggi-tinggi, udah dandan, udah punya pacar, apalah aku masih bocah. Begitu sudah haid, tinggi badan saya melesat 20an senti dalam setahun, namun sayangnya kesempatan untuk jadi tim paskibra atau mayoret sudah terlewat, hhehehe. Back to topic, saya beruntung karena sampai sekarang siklus menstruasi saya cenderung normal, berulang setiap sekitar 30-35 hari, dengan pola yang jelas. Sekalinya kacau itu tiga bulan lalu, siklus menstruasi saya sempat terganggu karena stress, sebulan haid 2 kali (yang kedua hanya berlangsung 3 hari). Sekarang sih sudah mulai normal kembali. Tahapan haid saya mulai dari flek hingga bersih total biasanya berlangsung cukup lama, mencapai 10 hari dengan pola sebagai berikut;

Dapat dibayangkan 10 hari itu berapa bungkus pembalut dan pantyliner yang saya butuhkan? Banyak! Permasalahan tidak hanya timbul dari segi biaya, tapi juga segi kesehatan. Saya sering mengalami iritasi parah di luar sekitar area kewanitaan. Asumsi saya, hal tersebut disebabkan karena kulit area kewanitaan yang lembab dan terpapar darah kotor dalam jangka waktu lama. Saya benar-benar berharap menstrual cup dapat menjadi solusi untuk permasalahan tersebut.
Pengalaman menggunakan menstrual cup
Hari 1
Paket kiriman baru datang. Hari tersebut saya sudah mengalami flek, menandakan siklus menstruasi akan segera dimulai. Saat yang tepat, pikir saya. Sesuai petunjuk penggunaan, saya merebus dulu cawan tersebut di air mendidih selama 4 menit. Saya sampai membeli panci yang murah-murah khusus untuk merebus cawan ini setiap bulannya. Saya tidak mau mencampur panci yang digunakan untuk memasak makanan dengan panci untuk merebus cawan, jijik hhehe.

Setelah dingin, saya mencoba memasukkan cawan ke organ kewanitaan. Percobaan pertama saya menggunakan lipatan C-fold, namun tidak berhasil, lipatan cawan tidak mau terbuka. Saya lepas dan coba pasang kembali. Berikutnya, saya coba lepas pasang lagi menggunakan berbagai jenis lipatan yang saya cari dari internet. Lipatan yang cocok untuk saya adalah lipatan origami. Saya coba cek sekeliling batang cawan menggunakan jari. Saya rasakan bagian pangkal cawan tidak ada lagi yang terlipat. Saya coba tarik batangnya juga berat. Yes, berhasil. Saya mencoba berjalan, duduk, berbaring, dan berbagai pose lainnya. Ada rasa mengganjal yang walaupun sedikit, tapi tidak bisa saya abaikan. Terutama ketika saya duduk. Rasa tersebut sepertinya berasal dari batang cawan yang menjuntai. Rasa mengganjal tersebut hanya terasa ketika saya teringat bahwa ada benda asing di tubuh saya, jadi saya coba untuk “dah lupain aja”. Saya tidur dengan menstrual cup terpasang.

Hari 2
Pagi harinya saya langsung melepas cawan. Kata beberapa orang, melepas cawan jauh lebih susah daripada saat memasangnya. Saya harus sedikit mengejan, menarik perlahan-lahan batang cawan yang menjuntai. Pada saat yang sama, saya harus menekan pangkal cawan agar sedikit terlipat sehingga cawan mudah keluar. Cara kerja cawan ini seperti suction cup, jadi memang harus dilipat agar ada udara masuk dan cawan bisa terlepas. Saya mengusahakan mulut cawan menghadap ke atas agar darah haidnya tidak langsung tumpah. Ini saya posisinya duduk di closet ya. Di cawan saya hari ini belum terdapat banyak darah, hanya sedikit gumpalan merah gelap. Saya buang darahnya dan mencuci cawan di air mengalir menggunakan sabun yang ringan dan tidak berparfum. Saya pribadi menggunakan sabun cethapil (waktu itu iseng beli SiJ tapi ternyata tidak cocok). Setelah itu saya pasang lagi dan beraktifitas seperti biasa.
Pada hari itu, saya lepas, cuci, dan pasang kembali setiap 6-8 jam. Rasa mengganjal semakin terasa ketika saya membonceng sepeda motor. Saya berpikir mungkin di tubuh saya batang cawan tersebut agak kepanjangan, jadi saya akan memotongnya nanti malam ketika dilepas. Namun saya mengurungkan niat tersebut dan mencoba sehari lagi siapa tau saya akan terbiasa dengan rasa mengganjalnya.

Hari 3
Keputusan saya semalam untuk tidak menggunting batang cawan ternyata tepat. Sempat sedikit shock karena cawan masuk lebih tinggi ke dalam organ kewanitaan. Saya harus mengejan dulu baru kemudian mencari-cari batang cawannya yang agak tersembunyi. Lepas-pasang hari ini berjalan lancar walaupun posisi cawan yang agak masuk lebih dalam. Barangkali justru memang seperti ini penggunaan cawan yang pas di tubuh saya. Hari ini tidak ada lagi rasa mengganjal yang mengganggu. Bahkan ketika saya ingat sedang menggunakan cawan pun, saya tetap tidak merasakan apa-apa. Nyaman sekali. Saya suka.

Hari 4
Semalam saya mengosongkan cawan sekitar pukul 22.30 dan saya kenakan kurang lebih selama 8 jam ketika tidur. Ketika bangun saya risih karena merasakan semacam gelembung-gelembung udara. Duh pasti ini bocor. Dan benar, bocor cukup banyak. Untungnya karena masih dalam tahap coba-coba, saya masih menggunakan pembalut seperti biasa. Siang di kantor pukul 10.30 saya sudah mengosongkan cawan kembali. Hanya dalam waktu 4 jam tersebut, cawan saya sudah hampir penuh, namun tidak sampai bocor. Pukul 14.30, saya sudah merasakan gelembung-gelembung udara lagi. Dan benar ada sedikit bocor. Ketika cawan saya lepas, cawan sudah penuh. Darah hari ini berupa gumpalan-gumpalan besar. Hari keempat siklus menstruasi saya memang disaster.

Hari 5
Sekarang saya sudah ahli dalam melepas dan memasang cawan. Aliran darah hari ini sudah tidak sederas kemarin. Saya tidur 8 jam tetap aman tidak ada bocor sama sekali. Cawan hanya terisi setengahnya. Begitupun siang harinya.
Hari 6 dst
Saya sempat lupa tidak melepas cawan hingga 14 jam, saya tidak merasakan ada efek samping sih, tapi sebaiknya jangan sampai lewat dari 12 jam seperti petunjuk pemakaian. Tidak ada kebocoran sama sekali di hari-hari terakhir ini. Setelah menstruasi selesai, saya sterilkan kembali cawannya di air panas, masukkan ke pouch dan simpan.
Tips:
- Setiap tubuh wanita berbeda. Coba berbagai jenis lipatan untuk menemukan mana yang nyaman untuk kalian. Rileks saja jangan tegang. Sabar ya, untuk bisa lancar pasang-lepas memang butuh latihan kok.
- Batang cawan akan terasa sedikit mengganjal. Coba rasakan beberapa hari dahulu. Kenali anatomi tubuh sendiri sebelum terburu-buru memutuskan untuk memotong batangnya. Kenyamanan memang penting, tapi jangan sampai nanti sudah terlanjur dipotong malah membuat kita kesusahan saat melepasnya. Cawannya bisa untuk 10 tahun lho, rugi kalo beli lagi hanya karena motong batangnya kependekan.
- Untuk pemula, selalu cek cawan tiap 5-6 jam. Organicup memang menyatakan bahwa cawan aman digunakan hingga 12 jam. Namun, aliran darah ketika sedang deras-derasnya bisa bervariasi pada setiap orangnya. Kenali siklus menstruasimu. Jangan sampai cawannya kepenuhan dan bocor.
- Sebisa mungkin simpan sabun di dalam kemasan pouch Bawalah kemana-mana ketika kita sedang menstruasi. Jika bepergian dan terpaksa tidak ada sabun, cuci cawan dengan air mengalir hingga bersih, baru gunakan kembali. Cuci bersih menggunakan sabun segera setelah di rumah. Jangan dianggap sepele ya masalah kebersihan. Ini cawan masuk badan lho, sebisa mungkin menghindari risiko dan penyakit karena infeksi bakteri Toxic Shock Syndrome (TSS).
Jadi, pilih pembalut atau menstrual cup?
Menstrual cup! Bye pembalut~
Sorry for the post, here’s a potato:









